KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak
nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari begitu banyak nikmat
yang telah dapatkan dari Allah SWT. Selain itu, kami juga merasa sangat
bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik kesehatan maupun pikiran.
Dengan
nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan tugas mata kuliah IPBA dengan topik inti “Alam Semesta” ini. Kami mengucapkan
terima kasih kepada ibu Dewi Sartika,
S.Pd., M.Pd. Selaku dosen
pengampu mata pelajaran IPBA serta semua pihak yang turut membantu proses
penyusunan makalah ini.
Kami
menyadari makalah ini masih bersifat sederhana dan terbatas baik isi maupun
kajiannya.Oleh karena itu,diperlukan saran dan kritik guna memperbaiki
penyusunan makalah selanjutnya.
Demikian, semoga
makalah ini dapat menambah wawasan dan memberi manfaat bagi pembaca dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan Alam Semesta.
Majene, April 2018
Penulis
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tata
surya kita sendiri dan matahari sebagai pusatnya dan dikelilingi sembilan
planet dan benda-benda angkasa lainnya. Kesembilan planet tersebut adalah merkurius, venus, mars, yupiter, saturnus, uranus, dan neptunus.
Jagat raya
merupakan ruang yang luas dan segala zat serta energi yang ada didalamnya.
Sejarah jagat raya dimulai pertama kali ketika manusia mengenal ilmu perbintangan. Sejak zaman dahulu manusia
berusaha ingin tahu tentang jagat raya baik mengenai ukuran,bentuk,isi,sifat
maupun jarak benda-benda langit yang satu dengan yang lainnya. Dari inilah
muncul ilmu astronomi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
benda-benda angkasa.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan alam semesta?
2. Apa
saja yang melatar belakangi terbentuknya alam semesta?
3. Apa
saja yang melatar belakangi terjadinya tata surya?
4. Apa
saja yang termasuk anggota tata surya?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui
pengertian alam semesta
2. Mengetahui
teori yang melatarbelakangi terbentuknya alam semesta
3. Mengetahui
teori yang melatarbelakangi terjadinya
tata surya
4. Mengetahui
termasuk anggota tata surya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Alam Semesta
Kajian
(studi) tentang sifat,evolusi, dan
asal alam semesta (universe) disebut
Kosmologi. Kesimpulannya masih mengandung ketidakpastian tetapi teori Dentuman
Besar (Big Bag) atau teori Bola Api Purba (Primewal
fireball) yang dikemukakan di sini, menunjukkan konsensus (mufakat) yang
masih disepakati di antara ahli-ahli astronomi.
Alam
semesta mencakup tentang mikrokosmos
dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat
kecil,misalnya atom,electron,sel,amuba dan sebagainya. Sedangkan makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyi ukuran yang
sangat besar, misalkan bintang,planet ataupun galaksi.
B.
Asal-mula
Alam Semesta
Para ahli
astronomi menggunakan istilah alam semesta dalam pengertian tentang ruang
angkasa dan benda-benda langit yang ada di dalamnya. Manusia sebagai makhluk
Tuhan yang berakal budi dan sebagai penghuni alam semesta selalu tergoda rasa
ingin tahunya. Untuk mencari penjelasan tentang makna dari hal-hal yang
diamati. Dengan diperolehnya berbagai pesan dan beraneka ragam cahaya dari
benda-benda langit yang sampai di bumi, timbullah beberapa teori yang
mengungkapkan tentang terbentuknya alam semesta. Teori tersebut dikelompokkan
menjadi.
1. Teori Kabut(Nebula)
·
Matahari dan planet-planet lainnya masih berbentuk gas,
kabut yang begitu pekat dan besar.
· Kabut tersebut berputar dan berpilin dengan kuat, dimana
pemadatan terjadi di pusat lingkaran yang kemudian membentuk matahari. Pada
saat yang bersamaan materi lainpun terbentuk menjadi massa yang lebih kecil
dari matahari yang disebut sebagai planet, bergerak mengelilingi matahari.
· Materi-materi tersebut tumbuh makin besar dan terus
melakukan gerakan secara teratur mengelilingi matahari dalam satu orbit yang
tetap dan membentuk Susunan Keluarga Matahari.
2. Teori Planetisimal
Pada awal abad ke-20, Forest Ray Moulton, seorang ahli
astronomi Amerika bersama rekannya Thomas C.Chamberlain, seorang
ahli geologi, mengemukakan teori Planetisimal Hypothesis, yang mengatakan
matahari terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, Pada suatu saat melintas
bintang lain yang ukurannya hampir sama dengan matahari, bintang tersebut
melintas begitu dekat sehingga hampir menjadi tabrakan. Karena dekatnya
lintasan pengaruh gaya gravitasi antara dua bintang tersebut mengakibatkan
tertariknya gas dan materi ringan pada bagian tepi.
3. Teori Pasang Surut Gas(Tidal)
Teori ini dikemukakan oleh James Jeans dan Harold
Jeffreys pada tahun 1918, yakni bahwa sebuah bintang besar mendekati
matahari dalam jarak pendek, sehingga menyebabkan terjadinya pasang surut pada
tubuh matahari, saat matahari itu masih berada dalam keadaan gas. Terjadinya
pasang surut air laut yang kita kenal di Bumi, ukuranya sangat kecil.
Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke Bumi (60
kali radius orbit Bumi). Tetapi, jika sebuah bintang yang bermassa hampir sama
besar dengan matahari mendekat, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung
gelombang raksasa pada tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang
tadi. Gunung-gunung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk
semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari dan
merentang ke arah bintang besar itu.
Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan
akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda
tersendiri, yaitu planet-planet. Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada
bagian-bagian tubuh matahari tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya,
sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap-planet yang berbentuk
tadi. Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami
proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada
planet-planet besar, seperti Yupiter dan Saturnus, sedangkan pada planet-planet
kecil seperti Bumi kita, pendinginan berjalan relatif lebih cepat.
4. Teori Bintang
Kembar
Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli Astronomi R.A
Lyttleton. Menurut teori ini, galaksi berasal dari kombinasi bintang
kembar. Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar.
Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat,
maka sebaran pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak
meledak itu. Bintang yang tidak meledak itu sekarang disebut dengan matahari,
sedangkan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya.
5. Teori Big Bang
Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi
berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan
kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran tersebut memungkinkan
bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di
pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak
dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan
nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula
tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi
Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan
yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk
gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu
membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses
secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam
proses pembentukan bumi, yaitu: Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen
dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur. Pembentukan perlapisan
struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang
berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih
ringan akan bergerak ke permukaan. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu
inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan
helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi
hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis
konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam
semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka
unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi
helium. Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang
diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang
dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam
semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa
cacat .
A.
Galaksi dan Bintang
1.
Galaksi
a)
Pengertian
Galaksi adalah sebuah sistem yang
terikat oleh gaya gravitasi yang
terdiri atas bintang (dengan segala
bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang
hitam), gas dan debu kosmik medium
antarbintang, dan kemungkinan substansi hipotetis yang dikenal dengan
materi
gelap.
Ada satu
Hipotesis (dugaan sementara yang harus teruji kebenarannya sehingga ia menjadi
teori), yaitu hipotesis Fowler (1957), menurutnya 12 ribu tahun yang lalu,
galaksi kita tidak seperti keadaan seperti sekarang ini, ia masih berupa kabut
gas hidrogen yang sangat besar yang berada di ruang angkasayang bergerak
perlahan melakukan rotasi sehingga keseluruhannya berbentuk bulat, karena gaya beratnya
maka ia mengadakan kontraksi dan kondensasi sambil terus berputar pada
sumbunya. Saat kontraksi massa bagian luar banyak yang tertinggal. Bagian yang
berkisar (berputar) lambat dan mempunyai berat jenis yang besar akan membentuk
bintang-bintang. Dengan cara yang sama bagian luar yang tertinggal juga
mengadakan kondensasi sehingga terbentuklah planet. Demikian juga planet
membentuk satelit bulan. Galaksi, tempat matahari kita berinduk diberi nama
MILKY WAY atau BIMA SAKTI.
b)
Macam-Macam Galaksi
·
Galaksi Elips
Galaksi Elips merupakan galaksi yang
sudah tua, terbentuk dari bintang-bintang yang sudah tua, lebih redup
dibandingkan tipe spiral dengan banyak bintang merah besar, pambentukan bintang
baru sudah berhenti.
·
Galaksi Spiral
Galaksi Spiral berbentuk spiral amat
besar dengan inti di tengah (nukleus) dan lengan spiral dan cakram (disk). Pada
lengan ini terkonsentrasi debu dan gas (nebulae) dimana terdapat pembentukan
bintang aktif, bila dilihat dari samping, galaksi ini tampak seperti elips berlengan
dan dikelilingi atmosfer bercahaya, serta terdapat lingkaran-lingkaran kumpulan
beribu-ribu bintang yang disebut Globular Cluster. Jumlah galaksi ini kurang
lebih 80% dari galaksi yang ada. Salah satu contoh galaksi spiral adalah
galaksi Canes Venatici.
·
Galaksi Tak Beraturan
Galaksi Tak Beraturan terdiri dari
bermiliar-miliar bintang muda berwarna putih kebiruan dan bintang raksasa biru
yang sangat panas. Diantara bintang-bintang tersebut bertebaran gas dan debu
luar angkasa. Banyaknya galaksi berbentuk tak beraturan ialah 3%.
·
Galaksi Bima Sakti
Induk dari matahari kita ialah galaksi
Bima Sakti atau Milky Way, karena berdasarkan pengamatan, Galaksi Bima Sakti
bila dilihat dari atas berwujud seperti spiral raksasa yang berputar. Dari
samping terlihat seperti elips yang sangat besar. Bintang-bintang bertebaran
dalam lengan spiral, diantaranya matahari kita. Jaraknya 30.000 tahun cahaya
dari pusat galaksi atau 20.000 tahun cahaya dari ujung atau pinggir galaksi.
Galaksi Bima Sakti bergaris tengah 100.000 tahun cahaya. Makin ke tengah,
tebaran bintang makin merapat dan diperkirakan pusat galaksi merupakan bola
bintang raksasa sehingga galaksi ini berbentuk bulat pipih seperti kue cucur.
2.
Nova dan Supernova
Aristotle (38-1-322 SM), ketika menyusun alam semesta
kristalin (erystalline universe)
menyatakan bahwa langit (heavens)
tidak berubah. Sepanjang abad pertengahan (Middle
Ages), ajaran ini mengharuskan bahwa sejumlah bintang-bintang yang diamati
konstan (tidak berubah). Baru pada tahun 1572, ajaran ini mendapat pukulan
keras dengan ditemukannya sebuah bintang baru atau nova (bahasa Latin untuk
“baru”), sekarang disebut bintang Tycho (Tycho’s
star). Beberapa tahun kemudian, Kepler menunjukkan pengamatan serupa pada
nova lain yang meledak dalam pandangan konstelasi Ophiuchus pada tahun 1604.
Dengan datangnya fotografi dan teleskop besar pada abad ke-19, ahli astronomi
menemukan sejumlah besar novae (jamak
untuk nova) yang tersebar di langit. Pada awal abad ke-20, nova kemudian
dianggap sebuah bintang baru yang berasal dari ledakan mendadak cahaya sebuah
bintang.
a.
Nova (bintang baru)
Hingga kini, sekitar 200 novae telah diamati di galaksi
Bimasakti. Novae merupakan golongan bintang-bintang khas (istimewa) yang dapat
dikenal dari curva cahayanya, variasi kilapannyadengan waktu.
Novae diklasifikasikan secara rinci oleh bentuk dan
karakteristik kurva cahayanya. Pada umumnya, semua kurva cahaya nova mempunyai
pola yang sama yaitu kenaikan awal yang cepat sekitar 9 magnitude ketika
atmosfer bintang dihembuskan dalam pemuaian tempurung (shell) bintang secara cepat, kemudian mencapai puncak kilapan
maksimum, dan menurun pelan-pelan dalam ratusan hari, dimana spektrum bintang
memperlihatkan karakteristik garis-garis terang sebuah selubung gas tipis panas
yang mendorong menjauhi bintang.
Sampai sekarang, masalah yang tak terjawab adalah mengapa
terjadi ledakan sebuah nova. Studi baru menunjukkan bahwa semua novae terjadi
dalam sistem biner (pasangan) yang berdekatan yaitu bintang biner dengan
periode pendek, seperti biner spektroskopik. Dalam sistem ini, dua bintang
berada demikian dekat agar materi mengalir dari bintang yang lebih masif menuju
ke bintang yang kurang masif. Pertukaran
massa ini memberikan bahan bakar bagi bintang kecil, dan aliran masuk (irflux)
ini menimbulkan kondisi labil (unstable)
dalam struktur bintang yang menghasilkan nova.
b.
Supernova
Nebula Ketani (crab
Nebula) merupakan bekas supernova yang terindetifikasi pertama di dalam
galaksi kita. Nama supernova diciptakan oleh Fritz Zwickly dan Walter Boode
untuk nova ekstraordiner (seperti supernova Andromeda) yang ditemukan pada
galaksi lain.
Ahli astronomi menggolongkan supernovae berdasarkan bentuk
kurva cahayanya dalam dua golongan: tipe I yang menampakkan maksimum tajani
(magnitude mutlak sekitar 19) dan turun dengan cepat, dan tipe II yang
mempunyai puncak maksimum tidak tajam (magnitude mutlak sekitar 17) dari lenyap
dengan cara yang lain daripada biasanya (irregular).
Beberapa sering jenis kebengisan (violence) kosmik ini terjadi, masih dalam perdebatan. Tingkat
kejadian dalam setiap galaksi adalah rendah, tetapi sejumlah besar galaksi
tampak (visible galaxies) memastikan
bahwa sebuah supernovae tipe I meledak dalam sebuah galaksi dengan rata-rata
sekali dalam 360 tahun. Supernova tipe II lebih sering meledak dalam sebuah
galaksi yang secara kasar setiap 70 tahun sekali. Beberapa ahli astronomi
memperdebatkan bahwa frekuensi yang
sebenarnya harus lebih besar dari yang diamati karena tidak semua peristiwa
supernova dapat diamati.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Alam semesta
adalah ruang angkasa dan benda-benda langit yang didalamnya terdapat
bermacam-macam galaksi. Galaksi bimasakti memiliki tata surya yang terdiri dari
bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda lain di dalam tata surya.
Dari uraian mengenai galaksi diatas
, kami dapat memberi kesimpulan bahwa galaksi adalah suatu sistem yang terdiri
dari bintang bintang , gas dan debu yang amat luas , dimana anggotanya
mempunyai daya tarik menarik (gravitasi) . macam macam atau bentuk galaksi ada
yang berbentuk spiral , elips dan tak beraturan .dan proses terjadinya galaksi
diatas bermula dari kumpulan kumpulan serpihan ledakan yang kemudian menjadi
galaksi , galaksi disini adalah calon bintang atau kelompok bintang yang
jumlahnya ribuan atau jutaan dan terdapat di alam semesta , artinya galaksi itu
bukan cum bintang , akan tetapi matahari , bulan dan semua planet itu dapat
disebut galaksi , teori yang membahas terbentuknya galaksi adalah hipotesis
fowler (1957) yang menurutnya 12000 juta tahun yang lalu galaksi kita tidaklah
seperti sekarang ini , bentuknya berupa kabut gas hidrogen yang sangat besar
yang berada diluar angkasa .
B.
SARAN
Setelah mempelajari materi tentang galaksi ini diharapkan tidak lagi terjadi
salah dalam mengartikan tentang galaksi . Oleh karena itu, sudah seharusnya
kita memperdalam ilmu pengetahuan agar kita mampu memahami materi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Haenes, myblog. 2017. Behavior
Urldefaultvmlo, (online)
Desy, bella. 2016.
Makalah Ilmu Alamiah Dasar Tentang
Galaksi, (online)
https://belladesy05.wordpress.com/2016/09/09/makalah-ilmu-alamiah-dasar-tentang-galaksi/, diakses 17 April 2018
Tjasyono, Bayong.
2011. Ilmu Kebumian dan Antariksa.
Bandung : ROSDA





Tidak ada komentar:
Posting Komentar