PENGARUH
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
KONSEP SUHU DAN KALOR
Ahmad Farisi, Abdul Hamid, Melvina Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Unsyiah Email: ahmadfarisi91@yahoo.co.id
Nurul Amalia Aris, Afifah Rahman Pendidikan
Fisika, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Alam,Universitas Sulawesi Barat Email : amhellia21@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk
melihat pengaruh model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada konsep
suhu dan kalor di SMP Negeri 1 Kaway XVI. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan kuantitatif dalam bentuk penelitian eksperimen. Teknik pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive
sampling, sampel yang dipilih adalah kelas VII-1 (22 orang
siswa) sebagai kelas eksperimen, dengan model pembelajaran yang digunakan model
PBL dan kelas VII-2 (20 orang siswa) sebagai kelas kontrol, dengan
model pembelajaraan yang digunakan model pembelajaran langsung. Data yang
dikumpulkan berdasarkan hasil dari pre-test
dan post-test yang disusun
berlandaskan indikator berpikir kritis, yaitu: (1) memberikan penjelasan
sederhana; (2) menyimpulkan, dan;
(3) memberikan≤ penjelasan lebih lanjut. Kemudian
data tersebut dianalisis menggunakan uji-t. Uji hipotesis yang digunakan uji 1
pihak yaitu pihak kanan, dengan kriteria terima Ha jika thitung > ttabel dan Ha
ditolak jika thitung ttabel. Hasil uji hipotesis
didapatkan thitung = 6,71
dan ttabel = 1,68, maka
dapat disimpulkan thitung > ttabel, dengan kata lain Ha diterima. Simpulan penelitian ini
adalah terdapat pengaruh penggunaan model
pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada konsep suhu dan kalor di
SMP Negeri 1 Kaway XVI. Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis menyarankan
untuk menggunakan model pembelajaran PBL dalam mengajar pelajaran fisika.
Abstract
This study aims to see the effect of learning model Problem
Based Learning (PBL) on students critical thinking skills on the concept of
temperature and heat in SMP Negeri 1 kaway XVI. The approach used is a
quantitative approach in the form of experimental research. The sampling
technique is using class of purposive sampling, the selected sample is class
VII-1 (22 students) as experiment class, with learning model used
PBL model and class VII-2 (20 students) as control class, with the
model of learning used by Direct Instruction model. The data collected based on
the results of the pre-test and post-test are based on the indicators of
critical thinking, namely: (1) provide a simple explanation;≤ (2) to conclude, and; (3) provide
further explanation. Then the data is analyzed using t-test. Hypothesis test
used by 1 side test is right side, with criterion accept Ha if t-count
> t-table and Ha rejected if t-count t-table.
Hypothesis test results obtained tcount = 6.71 and ttable = 1.68, it can be
concluded t-count > t-table, in other words Ha
accepted. The conclusion of this research is the effect of using Problem Based
Learning (PBL) model on students' critical thinking ability on concept of
temperature and heat in SMP Negeri 1 Kaway XVI. Based on the above conclusions
the authors suggest to use the PBL learning model in teaching physics lessons. Keywords: problem based bearning,
learning, critical thinking skills
PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang
berlaku dalam sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Kegiatan pembelajaran
pada
kurikulum 2013 diarahkah untuk
memberdayakan semua potensi yang dimiliki peserta didik agara mereka dapat
memiliki kompetensi-kompetensi yang diharapkan dapat membuat perubahan negara
yang jauh lebih baik kedepannya.
Pandangan
dasar dari kurikulum 2013, pengetahuan tidak dapat berpindah begitu saja dari
guru kepeserta didik. Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk
secara aktif mencari, mengolah, mengontruksi dan menggunakan pengetahuan secara
berkesinambungan. Pembelajaran seperti ini lebih dikenal dengan istilah
pendekatan Scientific, didalam
pendekatan ini peserta didik (siswa)
dituntut lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran dan guru bersifat
sebagai fasilitator. karakteristik
dari pendekatan saintifik yaitu: (a) berpusat pada siswa, melibatkan
keterampilan proses sains dalam mengontroksi konsep, hukum atau prinsip; (b)
melibatkan proses-proses koknitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, (c) dapat mengembangkan karakteristik siswa (Hosnan, 2014:36).
Berpikir
kritis merupakan salah satu indikator dari berpikir tingkat tinggi, istilah
berpikir kritis (critical thinking)
sering disama artinkan dengan berpikir konvergen,
berpikir logis (logical thinking) dan
reasoning. Berpikir kritis adalah
berpikir dengan baik, merenungkan tentang proses berpikir merupakan bagian dari
berpikir dengan baik. Berpikir kritis digunakan dalam kegiatan mental seperti
memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis asumsi dan melakukan
penelitian secara ilmiah (Alwasilah, 2010:183 dan 187).Tujuan dari berpikir
kritis menurut Edward (2007:204) mengemukakan, berpikir kritis adalah
menyingkapi kebenaran dengan
menyingkirkan semua yang salah agar kebenaran terlihat.
Menurut
Harsanto (2005:44) menyatakan, salah satu sisi menjadi orang kritis, pikirannya
harus terbuka, jelas, dan setiap keputusan yang diambil harus disertai alasan
berdasarkan fakta dan ia juga harus terbuka terhadap perbedaan pendapat.
Seseorang dapat
dilihat kemampuan berpikir kritisnya
berdasarkan indikator berpikir kritis, yaitu : 1) memberikan penjelasan
sederhana (elementary clarification), 2) membangun keterampilan dasar (basic support), 3) membuat inferensi (inferring), 4) membuat penjelasan lebih lanjut (advanced clarification), 5) mengatur strategi dan taktik (strategies and
tactics) (Komalasari, 2011: 266).
Peran
guru dalam melatih kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran fisika, dapat
dilakukan dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat yang dilakukan oleh
guru. Model pembelajaran yang dipilih harus memiliki sintaks pembelajaran
berpusat pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang memiliki karakter
tersebut ialah model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah, karena menurut
Amir (2010:21), model pembelajaran Problem
Based Learning mempersiapkan siswa
untuk berpikir kritis dan analitis.
Prinsip pembelajaran model PBL yaitu
dengan memberikan masalah sebagai langkah awal dalam proses pembelajaran,
masalah yang disajikan adalah masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari, karena akan semakin baik pengaruhnya pada peningkatan hasil
belajar (Amir, 2010:22). Disini tugas pendidik sebagai fasilitator yang
mengarahkan peserta didik dalam mencari dan menemukan solusi yang diperlukan.
Selain itu menurut Rusman (2012:230) pembelajaran berbasis masalah dapat
membatu untuk meningkatkan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola
pikir yang terbuka, reflektif, kritis dan belajar aktif.
Tujuan
utama dari model PBL adalah pengembangan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah,
sekaligus mengembangkan kemampuan
peserta didik secara aktif membangun pengetahuannya sendiri (Hosnan, 2014:299).
PBL juga dimaksudkan untuk
mengembangkan kemandirian belajar dan
keterampilan sosial peserta didik.
Kemandirian belajar dan keterampilan sosial itu dapat terbentuk ketika peserta
didik
berkolaborasi untuk mengidentifikasi
informasi, strategi, dan sumber belajar yang relevan untuk menyelesaikan
masalah.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian eksperimen dengan
menggunakan dua kelas sebagai sampel dan kemudian diberikan perlakuan yang
berbeda.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Kaway XVI yang terdiri dari tiga kelas
yaitu VII-1,VII-2 dan VII-3. Teknik pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling, maka kelas VII-1 dijadikan
sebagai kelas eksperimen dan VII-2
dijadikan sebagai kelas kontrol.
Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap, yaitu pre-test dan post-test.
Pre-test diberikan untuk melihat kemampuan
awal siswa, tahap ini dilakukan sebelum diberi perlakuan pada kedua sampel.
Hasil dari pre-test diharapakan kedua
kelas memiliki kemampuan awal yang sama. Post-test
diberikan untuk
melihat hasil setelah diberi
perlakuan dan untuk dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus
statistik uji-t. Uji hipotesis yang digunakan uji 1 pihak≤ yaitu pihak kanan, dengan kriteria terima Ha jika
thitung > ttabel dan Ha ditolak jika thitung ttabel.
Adapun
syarat untuk melakukan uji-t data harus di uji normalitas dan homogenitas
terlebih dahulu. Uji normalitas berfungsi untuk mengetahui apakah sampel yang
diteliti terdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan persamaan uji Chi-kuadrat. Uji homogen dimaksudkan
untuk memperlihatkan bahwa kedua
kelompok sampel tersebut berasal dari populasi yang memiliki vanriansi yang
sama. Dalam hal ini uji homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang telah
diperoleh dan setelah dilakukan pengolahan data tes awal (pre-test) siswa masing-masing kelas menunjukkan data berdistribusi
normal, selanjutnya kedua kelas dilakukan uji homogenitas dan hasilnya tidak
ada perbedaan yang signifikan diantara kedua kelas tersebut. Hal ini terbukti
setelah melihat perbandingan hasil Fhitung
terhadap Ftabel yaitu Fhitung < Ftabel dengan nilai 1,67 < 2,11 maka kedua kelas dinyatakan
bersifat homogen.
Setelah melakukan tes awal (pre-test) selanjutnya kelas ekperimen
dan kelas kontrol diberi tes akhir (post-test).
Pada kelas eksperimen yang diajarkan menggunakan model PBL menunjukan nilai tes
akhir sebesar 
71,318
dan kelas kontrol
yang
pada nilai post-test maka langkah selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji
hipotesis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang
telah dicapai pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji hipotesis yang
digunakan adalah uji satu pihak yaitu pihak kanan, dengan kriteria
Berdasarkan hasil perhitungan yang
telah dilakukan diperoleh+−t2hitung = 6,71 dan ttabel
pada taraf signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan dk = 
,
yakni dk = 40 menggunakan distribusi uji-t, diperoleh ttabel sebesar 1,68. Sehingga dapat dinyatakan thitung > ttabel
atau 6,71 >1,68. Pengujian hipotesis menunjukkan hasil thitung berada dalam
penerimaan Ha. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan penggunaan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap
kemampuan berpikir kritis dalam
meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep suhu dan kalor di SMP Negeri 1
Kaway XVI.
Peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen
dipengaruhi oleh penggunaan model
pembelajaran PBL, karena peneliti melihat model pembelajaran ini mampu
memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir
kritisnya. Strategi pembelajaran PBL
menggunakan permasalahan yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari
sebagai konsep awal pembelajarannya,
tujuannya supaya siswa mudah
mengaplikasikan apa yang telah siswa peroleh didalam kelas kedalam kehidupan
sehari-hari dan pembelajarannya tidak bersifat abstrak. Kemudian siswa didorong
untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah yang diberikan bersama dengan
teman sekelompok.
Materi yang diajarkan pada penelitian
ini yaitu suhu dan kalor pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Permasalahan
yang diangkat pada kelas eksperimen adalah tentang meletusnya ban kereta dan
berkurangnya air pada saat memasak, yang disusun dalam bentuk LKPD. Kegunaan
LKPD pada kelas penyelesaian masalah inilah siswa menemukan konsep materi yang
dipalajari dan aplikasinya didalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan LKPD pada
kelas kontrol untuk membantu siswa menguatkan materi yang telah diterima
berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh peneliti atau guru.
Pada
kelas kontrol sistem pembelajarannya berpusat pada guru, dengan model pembelajaran
yang digunakan model pembembelajaran langsung. Pada kelas kontrol siswa kurang
terlibat aktif didalam proses pembelajarannya di bandingkan dengan kelas
eksperimen yang diajarkan menggunakan model PBL. Kurang aktifnya
siswa dalam proses pembelajaran
menyebabkan kemampuan berpikir kritis siswa kurang terlatih, hal ini bisa
dilihat pada nilai rata-rata kelas eksperimen yaitu = 71,318 yang jauh lebih baik
dibanding dengan nilai rata-rata pada kelas kontrol yaitu= 57,1. Seorang
berpikir kritis harus mampu memberi alasan atas pilihan keputusan yang
diambilnya, harus bisa menjawab pertanyaan mengapa keputusan seperti itu
diambil (Harsanto 2005:44), hal ini terlihat pada siswa dalam fase diskusi.
Pada
kelas eksperimen peneliti hanya mengarahkan siswa pada permasalahan yang telah
dipilih kemudian siswa melakukan
secara mandiri proses penyelesaian
permasalahan tersebut. Pada saaat
menyelesaikan permasalah, pemikiran siswa
dioptimalkan melalauai proses kerja
kelompok dengan cara siswa mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan
dengan permasalahan dari buku pengangan siswa dan modul lab fisika SMP Negeri 1
Kaway XVI, kemudian mengolah informasi tersebut dengan berdiskusi bersama
kelompok dan
melakukan eksperimen serta
mempersentasikan hasil kerja kelompok didepan kelas. Hal ini sejalan dengan
pendapat Hosnan (2014:299) yang
menyatakan, tujuan utama dari pada model PBL bukanlah penyampian sebagaian besar
pengetahuan kepada peserta didik melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir
kritis dan penyelesain masalah.
Berdasarkan
penejelasan diatas maka dapat disimpulkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis
siswa. Pernyataan ini sejalan dengan Yosiwita dkk (2013) yang menyatakan bahwa
hasil berpikir kritis mengalami peningkatan sebesar 32,57% dengan menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning.
Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh
Ayuningrum (2015), pembelajaran
menggunakan model Problem Based Learning pada kelas eksperimen mengalami
peningkatan kemamampuan berpikir kritis siswa lebih besar
dibandingkan dengan kelas kontrol.
Model pembelajaran PBL selain mampu
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, model PBL juga mampu meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar, karena proses pembelajarannya bepusat pada siswa
sehingga memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa. Pernyataan ini
didukung oleh penelitian Setiawan (2008) yang mengatakan terjadi peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa setelah diajarkan menggunanakan model PBL.
Selain itu, didalam penelitian ini peneliti melihat kemampuan sosial siswa juga
mampu dikembangkan melalui diskusi dan kerja sama kelompok, sehingga siswa
terlatih untuk menghargai teman, serta mampu melatih siswa berbicara didepan
orang banyak melalui persentasi hasil kerja kelompok.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
analisis data dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada konsep suhu
dan kalor di SMP Negeri 1 Kaway XVI.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah,
Chaedar. 2010. Contextual Teaching and Learning : Menjadikan
kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung : Kaifa
Amir,
M Taufiq. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Arikunto,
Suharsimi.2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Ayuninggrum,
Diah dan Sri Muliyani Endang Susilowati. 2015. Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA
Pada Materi Protista. Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia. Jurnal tidak diterbitkan (online),
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/uj
be, diakses 7
Maret 2016.
Edward, De Bono. 2007. Revolusi
Berpikir.
Bandung : Kaifa PT Mirza Pustaka.
Harsanto,
Radno. 2005. Melatih Anak Berpikir Analitis, Kritis, dan Kreatif. Jakarta : PT. Grasindo.
Hosnan.
2014. Pendekatan saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Komalasari, Kokom. 2011. Pembelajran
Kontekstual Konsep dan Aplikasi.
Bandung: PT Refika Aditama.
Rusman. 2012. Model-model
Pembelajaran:
Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Depok: PT Raja Grafindo Persada.
Setiawan, Gusti Agung Nyoman. 2008.
Penerapan Pengajaran Kontekstual
Berbasis Masalah untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X2
SMA Laboratorium Singaraja. Jurna Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
(online), www.academia.edu.,diakses 13 Maret
2017.
Supardi. 2013. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2005. Metode Statistik.
Bandung: PT Tristo.
Yoswita, Dewi Fertika dkk. 2013.
Pengaruh
Model Pembelajaran Problem Based Leraning (PBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Program Studi
Pendidikan Biolongi, Fakultas
Kenguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung. Jurnal Ilmu
Pendidikan (online), http://jurnal.fkip.unila.ac.id/,
diakses 7 Maret 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar